KATA PENGANTAR MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS

Ekoregion Sumatra merupakan kawasan dengan keragaman hayati yang tinggi dan unik, yang memiliki 16 dari 22 tipe ekosistem alami di Indonesia. Lahan gambut di Riau, misalnya, merupakan kubah gambut terluas di Indonesia. Kawasan ini menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik di daratan maupun lautan, termasuk lebih dari 10.000 spesies tumbuhan, 300 jenis mamalia darat dan laut, dan 580 jenis burung. Ekoregion ini juga menjadi habitat bagi spesies endemik langka seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii).

Namun, sejak tahun 2000, lebih dari 50% tutupan hutan asli di Sumatra telah hilang. Penurunan ini berdampak langsung terhadap menyempitnya habitat, meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar, dan meningkatnya risiko kepunahan spesies, sebagaimana tercermin dalam status konservasi flora dan fauna yang ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh IUCN, terdapat lima jenis flora Sumatra yang terancam punah, sepuluh spesies aves masuk dalam kategori terancam, serta 62 spesies mamalia terestrial statusnya rentan, terancam, dan kritis. Jika tidak dikelola secara terintegrasi dan berbasis data, kehilangan keanekaragaman hayati di Sumatra akan menjadi kehilangan aset hayati yang tak tergantikan dan menghambat upaya pembangunan berkelanjutan. Sebagai bagian dari penguatan perencanaan pembangunan nasional yang berbasis bukti dan data mutakhir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama dengan Kementerian PPN/Bappenas, dan didukung oleh Pemerintah Jerman menyusun dokumen Status Keanekaragaman Hayati Ekoregion Sumatra sebagai bagian dari Buku Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024. Buku ini merupakan kelanjutan dari publikasi The Ecology of Sumatra 1997 dan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan aksi dalam Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045. Pemahaman yang utuh atas data dan informasi keanekaragaman hayati diharapkan dapat mendukung pelaksanaan RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025-2029.

Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dokumen ini. Harapan kami, buku ini dapat menjadi rujukan utama bagi seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam merancang intervensi dan kebijakan pembangunan yang selaras dengan pelestarian lingkungan, serta membuka ruang pemanfaatan sumber daya hayati berkelanjutan untuk mendukung implementasi ekonomi hijau dan biru di Ekoregion Sumatra. Akhir kata, mari kita jadikan keanekaragaman hayati sebagai fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Keragaman hayati bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga warisan kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Jakarta, Agustus 2025

 

Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

*) File :Buku Saku_Status Kehati Ekoregion Sumatra dan Buku_Status Kehati Ekoregion Sumatra bisa diperoleh di Menu Bank Data website ini.